.

Friday, July 31, 2015

5 ways you are unknowingly destroying your wife and killing your marriage


What you don't know CAN hurt you. These five things are hurting your wife and killing your marriage.


  • It's tough being a man these days. Modern men are expected to be sensitive, caring and in tune with their feelings; while at the same time they're still expected to be strong, protectors and able to fix anything that breaks. Men can't be too sensitive or they're not being good enough protectors. On the other hand, they can't be too protective or else they're not being sensitive enough.
 
  • As men, we try to navigate this balance between being caring and being strong. And because it can be such a fine line, there are a lot of times we fail. And there are things we do that are hurting our wives and killing our marriages. Here are five:
 
  • 1. Not providing the basics for the family

    As a man, it is your responsibility to provide for your family, regardless of whether or not your wife works. Sometimes this means working a few overtime shifts so your kids can sign up for that baseball league. And sometimes this means biting your lip when your boss is being a jerk because you need the stability for your family. But it makes it all worth it when you come home at night and see the smiles on everyone's face.

  • 2. Pessimism

    Ever since you were a kid, you were taught to, "Man up," and, "Don't cry," just to accept the fact that bad things just happen in life. While this is good advice sometimes, your wife also needs you to be an optimist. Your relationship will need to rally from all kinds of challenges, failures, hurt feelings and health problems. Your wife doesn't need someone to tell her to stop crying, she needs a shoulder to cry on.
 
  • 3. Withholding physical affection

    Yes, men do this, too. Physical affection is more than just sex. It includes giving her hugs before you leave for work, holding her hand in the aisle at the grocery store and pulling her close to you when you're watching a movie on the couch together. If you're withholding these things from her, you're withholding physical affection that she thrives on. The affection you try to show inside the bedroom will never make up for the physical affection you show her outside the bedroom.

  • 4. Putting other things first

    Of the hundreds of girls you knew and dozens that you dated, your wife was the one you picked to spend the rest of your life with. She needs to know that you still pick her. Every time you check your smartphone when you're out together or every time you come home late from work without calling you're sending her a message that she's not important to you. Consequently, she wonders if you still care about her as much as when you first got married.
    Your work is important, but don't forget what you're working for. Remember that there's nothing on your phone that's more important than what's going on right around you.
 
  • 5. Not speaking her language

    Women need to know they are loved and that you are grateful for her. You think you're showing love by going to work every day and bringing home a paycheck, so most of the time you don't do much more than that (except maybe on Valentine's Day).
    But, she needs more than that to see your love and she needs you to show her that you're doing it all for her. So take a little extra time and do something special. Send her a couple texts during the day or bring her home some flowers from the grocery store. You might be surprised at the reaction you get. 
 
 UPDATE: Women, this advice applies to you as well. Check out, "5 ways you are unknowingly destroying your husband and killing your marriage".

Source

Tuesday, July 28, 2015

Cerita Bijak Confucius dan Yan Hui

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius.
Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.”
Yan Hui: “Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia.”

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu
dengan puas.
Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat.
Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,
dan memberi Yan Hui dua nasihat: “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”
Yan Hui menjawab, “Baiklah,” lalu berangkat pulang.
Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat.
Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang?
Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata:
“Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”
Confucius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun
hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”
Jawab Confucius : “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga.
Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.”
Sejak itu, kemanapun Confucius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting. Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat. Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Source

Monday, July 20, 2015

Sejarah Makanan Cakwe Dari Jendral Yue Fei

Sejarah Makanan Cakwe Dari Jenderal Yue Fei

Di Hangzhou, selain tentang Legenda Siluman Ular Putihnya ( baca disini ) yang mendunia, ternyata Hangzhou sangat terkenal dengan makanan cakwe. Hampir seisi kota menjual cakwe. Sebenarnya sih, seluruh China ( baca disini ) ada saja yang menjual cakwe. Tapi, yang paling terkenal dan yang paling enak, konon kabarnya adalah di Hangzhou. Tidak berlebihan juga, karena asal muasal makanan cakwe itu berasal dari kota ini.

Rupanya ada cerita dan nilai sejarah dibalik makanan cakwe ini. Adalah seorang Jendral yang sangat terkenal jago kungfu dan pemanah yang tangguh pada zaman dinasti Song Selatan bernama Jendral Yue Fei. Sang Jendral sangatlah dihormati karena kehebatannya dalam berperang. Beliau selalu dipuja masyarakat dan nama besarnya sangat dijunjung tinggi. Begitu juga dengan Kaisar, sangat memandang Jendral Yue Fei. Posisinya kemudian semakin bersinar berkat prestasinya yang selalu berhasil dalam peperangan melawan dinasti Jin (baca: Cin).
Jenderal Yue Fei
Dipunggung sang Jendral terdapat sebuah tato yang mempunyai arti khusus " Segenap Hati Setia dan Membela Negara". Tato itu dibuatkan sendiri oleh Ibunda Yue Fei dan disaksikan oleh istri dan anaknya.
Ibunda Yue Fei membuatkan tato bertuliskan jin zhong bao guo (Segenap Hati Setia dan Membela Negara)
Kepopuleran Jendral Yue Fei membuat iri hati dari pejabat-pejabat lainnya. Ada sepasang suami istri pejabat bernama Qin Hui dan Lady Wang yang sangat benci sang jendral kemudian membuat sebuah taktik untuk menjebak Jendral Yue Fei, yaitu meminta Kaisar Gaozong untuk memanggil Jendral Yue Fei pulang saat sedang berperang untuk merebut kembali Ibukota Song Utara, Kaifeng. Setelah menolak surat perintah Kaisar sebanyak 11 kali, pada surat perintah ke 12, Sang Jendral akhirnya pulang ke Ibukota Song Selatan. Tuduhan, fitnahan dan segala akal busuk berhasil merobek nama bersih Jendral. Pada tahun 1142, Jendral Yue Fei beserta anaknya Yue Yun dan pengikutnya Zhang Xian akhirnya dihukum mati dengan tuduhan melanggar surat perintah Kaisar di usia 39 tahun.

Lukisan sejarah kehidupan Jenderal Yue Fei

Rakyat tidak terima, rakyat marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Rakyat tidak berani protes didepan umum, tidak berani beraksi. Ceritanya, ada seorang bibi tua, sangking bencinya pada pejabat Qin Hui dan istrinya yang telah memfitnah Jendereal Yue Fei, meluapkan emosinya dengan membuat makanan semacam kue panggang.

Takut ketahuan emosinya, si bibi tua itu, kemudian marah-marah kepada sepasang suami istri pejabat itu dengan menyebut mereka dengan nama lain. Saat kuenya mau digoreng, bibi tua menyebutkan : " Cha Kwe...Cha.. Kwe.." Dimana Cha artinya bunuh , Kwe itu nama samaran untuk sepasang suami istri pejabat itu. Kalau dikampung aku, dikenal dengan Yiu Cha Kwe. Ada tambahan kata Yiu, yang artinya minyak atau menggoreng. Jadi secara keseluruhan bisa berarti, bunuh si Kwe , goreng si Kwe. Bentuk cakwe kan ada 2 batang yang digabungkan jadi 1.Itu artinya 1 bagian si suami pejabat, 1 lagi bagian istrinya pejabat itu. Mereka sangat dibenci rakyat waktu itu.

Suami Istri Pejabat yang fitnah Jenderal Yue Fei
Saat berkunjung ke klenteng Jenderal Yue Fei, sangat ramai, dipenuhi turis lokal maupun manca negara. Dinding-dinding klenteng, samping kanan-kiri patung Jenderal Yue Fei berada, berisi lukisan-lukisan sejarah kehidupan Jendral hingga menemui ajalnya dihukum mati oleh Kaisar. Kuburan asli Jendral Yue Fei masih ada disana. Terletak dibelakang klentengnya, kata orang lokal, jenazah asli Jendral dimakamkan.

2 Pejabat lainnya yang ikut fitnah Jenderal Yue Fei
Sedangkan sepasang suami istri dan 2 pejabat lainnya, dibuatkan patungnya. Berlutut dengan tangan diborgol dihadapan makam Jendral Yue Fei. Dan, informasi saja, dari dulu, setiap turis lokal dari China yang ke sana, jika lewat didepan patung ini, pasti akan memaki dan memukul patungnya sambil ngedumel caci makiannya. Pemerintah sampai turun tangan, sampaikan pesan kepada para turis, patungnya tidak bersalah, patungnya hanyalah beton, pasir, batu dan semen. Patungnya tidak bersalah. Lagipula, ini sudah lama berlalu, ini sudah menjadi sejarah.

Patung suami istri pejabat dipukul dan dicaci maki
Demikianlah cerita dibalik sebuah makanan sederhana. Teman makan bubur. Cakwe ternyata mempunyai nilai dan sejarah yang begitu besar.
 
Source

Catatan penulis:
Kisah singkat Jenderal Yue Fei juga tercatat dalam kisah Roman/TV series terkenal Tiongkok yang berjudul Shui Hu Zhuan (Water Margin / Tepi Air), karena terjadi pada periode yang hampir bersamaan.